Skip to main content

Nasionalisme dalam konsep Islam

                                       
      Sudah menjadi fakta pada sejarah nasional, bahwa kemerdekaan yang direbut dari tangan para penjajah mayoritas direbut oleh para pejuang muslim. Semua yang mereka lakukan itu bukan semata-mata memenuhi panggilan dari ibu pertiwi untuk merdeka. Namun, panggilan suci yang berasal dari tauhid dan keimanan. Semangat nasionalisme para pejuang islam membuat kita dapat merasakan indahnya kemerdekaan yang dapat kita rasakan saat ini.
NASIONALISME DALAM KONSEP ISLAM. Yang berlandaskan Firman Allah dalam Q.S An-Nisa ayat 59.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

               
    Ahmad Mustafa Al-maraghi dalam tafsirnya jus 3 halaman 72 menjelaskan ayat ini adalah perintah kepada orang yang beriman agar mematuhi Allah serta mengamalkan Al-Qur'an dan mematuhi ulil amri yang meliputi pemerintah, para hakim, para ulama, panglima perang yang menjadi rujukan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan memecahkan masalah.            
     Jika kita lebih mendalami makna tersebut, maka ayat ini adalah landasan bagi orang yang beriman untuk hidup berbangsa dan bernegara. Namun kita harus hidup berbangsa dan bernegara sesuai dengan syariat islam bukan sesuai dengan kehendak kita sendiri. Kita masyarakat yang mempunyai rasa nasionalisme mempunyai harga diri yang tinggi , kita bukan masyarakat yang seharga dengan sandal swallow. Di bayar 100 ribu langsung mau ini itu. Jika sudah seperti itu akan banyak dari kita yang awal nya bersatu dapat menjadi berseteru, yang dulunya saling kenal kini tak lagi saling kenal. Sebagai warga nasionalisme kita seharusnya memahami arti ukhuwah secara umum dan itu merupakan pengalaman dari "Hablum minan naas". Oleh karena itu, marilah kita bangkit dan berdiri karena kita sedang terjajah, mari kita mepererat persatuan dan kesatuan karena hanya itu yang dapat kita lakukan.                                                       
Rasulullah SAW Bersabda :" Cinta tanah air adalah sebagian dari iman".
       Banyak orang yang menggunakan hadist ini untuk memompa rasa patriotisme dan nasionalisme bangsa indonesia. Dengan keyakinan hadist ini datang dari Rassulullah SAW umat islam banyak yang membela mati-matian batas negerinya tanpa memperdulikan atas aturan apa negeri itu dibangun. Jika negeri itu dibangun atas dasar islam dan berusaha menerapkan syari'at islam, maka wajib bagi umat islam untuk membelanya. Akan tetapi jika negeri tersebut dibangun bukan atas syari'at islam, maka bagi setiap muslim tidak boleh membela peperangan tersebut, karena peperangan yang tidak dijalan Allah bukan lah peperangan yang baik.                                                            
  Secara tidak sadar negara kita sedang terjajah, meski bukan secara fisik, tetapi secara ekonomi, intelektual budaya bangsa, sehingga mengikis peradaban, melemahkan keyakinan, dan memupuk perpecahan, dengan segala propaganda yang dikeluarkan, seperti inilah nampak pada pemberitaan. Jika sudah seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Sebagai jawabannya mari kita renungkan Firman Allah SWT dalam Q.S Al-Hujurat ayat 10 :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
         Dalam ayat tersebut kata Ikhwatun menurut prof. Dr. M Quraish shihab adalah persaudaraan yang terjalin diantara sesama muslim adalah persaudaraan yang berganda. Pertama, Karena dasar keimanan. Kedua, Karena dasar keturunan. Berdasarkan penjelasan tersebut bahwa Allah melarang islam untuk berpecah belah sesama kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka kesadaran, menghilangkan perbedaan, agar bangsa dan agama kita mendapatkan kemajuan dan membuat para warga kita makmur sejahtera bukan malah menjadi sengsara dan pastinya dengan berpedoman pada Al-Qur'an kita satukan hati dan jiwa untuk eratkan persaudaraan.                              
 Dari uraian diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita harus berpegang teguh dengan berpedoman dengan Al-Qur'an dan sunnah Nabi dalam membentuk warga yang nasionalisme yang tidak berpecah belah, saling berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan dan tidak saling bermusuhan namun saling mengisi kekurangan dalam memenuhi setiap kebutuhan bangsa dan negara. Dengan demikia InsyaAllah bangsa kita akan makmur dengan rakyat yang berbudi pekerti luhur sehingga rahmat Allah pun akan turun seperti air mancur yang jatuh dari atas langit. Amin.......................................

Comments

Popular posts from this blog

Merawat keragaman dalam kesatuan (NKRI)

                                Persatuan adalah tiang penyangga daya suatu negara. Kemajuan atau kemunduran suatu negara ditentukan oleh persatuan dan kesatuan bangsanya. Bangsa yang makmur adalah bangsa yang bersatu sedangkan bangsa yang hancur adalah bangsa yang berseteru. Indonesia adalah bangsa yang terdiri atas berbagai macam ras, suku dan agama. Tentu terdapat banyak perbedaan didalamnya. Namun dalam keberagaman itu kita bersatu dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. itulah hal dasar yang merupakan tiang kokoh bangsa kita. Untuk meningkatkan citra bangsa di mata dunia kita perlu mempertahankan keberagaman dengan persatuan dan kesatuan yang selama ini kita bina. Lalu bagaimana upaya kita mempertahankan persatuan dan kesatuan dalam keberagaman ? Q.S Al- Hujurat ayat 13 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ ا

REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF AL-QUR'AN

                                Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang perlu kita ketahui, zaman menuntut akan perubahan agar terlihat lebih mapan. Sementara jiwa terkadang tak sesuai harapan. Banyak hal yang mengandung pembaruan disertai unsur kepentingan yang luar biasa. Sehingga sering tak terlihat bahkan sulit membedakan antara baik dan buruk, antara haram dan halal, antara satu dengan yang lainnya. Merupakan aspek yang sudah menjiwai setiap insan yang terus bergejolak. "REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF AL-QUR'AN"  firman Allah SWT didalam Al-Qur'an ; ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendeng