Skip to main content

Kembali mencari harapan baru



      Tidak ada yang pernah mengira kapan perasaan itu datang. Perasaan cinta yang begitu mendalam, dibuat dengan racikan hati. Persoalan cinta kadang datang tiba-tiba, disaat hati sudah ada yang memiliki, rasa itu tak bisa ditahan-tahan. Setiap orang punya dan memiliki rasa yang demikian. Rasa yang besar lebih dari apapun. Saat bahagia semua terlihat begitu indah. Di saat kecewa semua terlihat begitu gelap tak ada lagi cahaya terang yang melambai.
     
     Begitulah rasa yang kubuat dengan mu, rasa yang perlahan tapi pasti. Berawal dari tatapan manis yang kita buat. Cinta hadir dari mata turun ke hati. Hati yang terdalam menusuk seluruh jiwa hingga raga ini tak begitu berdaya. Rasa itu begitu berarti bagiku, entah mengapa sampai saat ini aku takut kehilangan cahaya mu yang selalu menemani dan membawa ku menaruh waktu.
     
     Kini aku percaya sepenuhnya kepada bulan walau gelap ia ciptakan, biarlah pelangi tak pernah datang. Setiap perkataan akan ku pertanggung jawabkan. Dari sekian banyak bintang, hanya satu yang ku lihat agar bisa tetap berada dalam pelukan yang hangat. Begitu berarti kata “setia” dibenakku. Setia yang dapat membuat semua orang merana.
   
    Setia menurutku adalah pengorbanan, disaat harapan yang kita simpan benar-benar begitu dalam. Kepercayaan itu tetap selalu dijaga. Aku tak kan pernah mengecewakan mu. Ketika hujan semakin larut dimalam hari, aku tak ingin kau berfikir ragu akan kesetiaan ku. Biarkan hujan bersemayam didalam jiwa yang fana membuat kita merindu buta. Ada harapan dan keinginan. Semakin jauh kita melangkah selalu ada jurang yang membuat kita berlari begitu jauh.Bukan persoalan aku dan kamu
     
     Kutanamkan tumbuhan hijau didalam hati mu agar kelak aku tahu itu jerih payahku mendapatkan mu. Sebagai laki-laki yang bertanggung jawab atas bumi. Aku selalu bersyukur dan tidak akan pernah puas akan kebahagiaan ini. Walau begitu tenanglah aku tak mungkin mencabut tanaman itu. Tanaman yang kusemai setiap malam saat terbit senja ke dasar laut.
     
     Ini aku, ragaku, kusimpan semua asa karena aku benar-benar percaya. Laki-laki yang tulus mencintai akan selalu memposisikan diri dengan baik. Berjanjilah akan selalu ada disetiap langkah ku bila nanti kita di paksa untuk menjauh. Jarak yang terbentang membuat kita terpisah begitu keras. Berjanjilah akan tetap setia diujung jiwa yang lemah, dibawah raga yang selalu bergelora. Tidak akan ada yang sulit dalam jarak ini jika kita selalu menjaga hati.
     
     Percayalah ketika aku mengucapkan kata manis kepadamu bukan berarti itu sebagai omangan penenang jiwa mu. Percayalah jika aku benar-benar mengharapkan mu di saat orang lain selalu datang menggoda ku. Aku akan tetap katakan jika aku sudah memilikimu, disaat banyak yang datang kepadaku, aku memang selalu mendekati tetapi tidak akan pernah bisa berpaling hati. Aku takut tanaman ku sakit begitu jauh ketika melihat gempa bumi akan datang. Jarak akan tetap selalu kujaga dengan mereka yang bukan siapa-siapa. Begitulah kiranya jika kita benar-benar membangun komitnen dengan hati yang disemai sejak dini.

Comments

Popular posts from this blog

Merawat keragaman dalam kesatuan (NKRI)

                                Persatuan adalah tiang penyangga daya suatu negara. Kemajuan atau kemunduran suatu negara ditentukan oleh persatuan dan kesatuan bangsanya. Bangsa yang makmur adalah bangsa yang bersatu sedangkan bangsa yang hancur adalah bangsa yang berseteru. Indonesia adalah bangsa yang terdiri atas berbagai macam ras, suku dan agama. Tentu terdapat banyak perbedaan didalamnya. Namun dalam keberagaman itu kita bersatu dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. itulah hal dasar yang merupakan tiang kokoh bangsa kita. Untuk meningkatkan citra bangsa di mata dunia kita perlu mempertahankan keberagaman dengan persatuan dan kesatuan yang selama ini kita bina. Lalu bagaimana upaya kita mempertahankan persatuan dan kesatuan dalam keberagaman ? Q.S Al- Hujurat ayat 13 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ ا

Nasionalisme dalam konsep Islam

                                              Sudah menjadi fakta pada sejarah nasional, bahwa kemerdekaan yang direbut dari tangan para penjajah mayoritas direbut oleh para pejuang muslim. Semua yang mereka lakukan itu bukan semata-mata memenuhi panggilan dari ibu pertiwi untuk merdeka. Namun, panggilan suci yang berasal dari tauhid dan keimanan. Semangat nasionalisme para pejuang islam membuat kita dapat merasakan indahnya kemerdekaan yang dapat kita rasakan saat ini. NASIONALISME DALAM KONSEP ISLAM. Yang berlandaskan Firman Allah dalam Q.S An-Nisa ayat 59. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang

REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF AL-QUR'AN

                                Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang perlu kita ketahui, zaman menuntut akan perubahan agar terlihat lebih mapan. Sementara jiwa terkadang tak sesuai harapan. Banyak hal yang mengandung pembaruan disertai unsur kepentingan yang luar biasa. Sehingga sering tak terlihat bahkan sulit membedakan antara baik dan buruk, antara haram dan halal, antara satu dengan yang lainnya. Merupakan aspek yang sudah menjiwai setiap insan yang terus bergejolak. "REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF AL-QUR'AN"  firman Allah SWT didalam Al-Qur'an ; ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendeng